Home Bimbingan Al Qur'an Apakah Bismilah Adalah Ayat dari  Surat Al-Fatihah?

Apakah Bismilah Adalah Ayat dari  Surat Al-Fatihah?

by admineltartil

Permasalahan bismillah bagian atau tidaknya dari surat Al-Fatihah merupakan hal yang sangat urgent. Imam An Nawawi dalm kitab Al-Majmu’ bahkan mengaitkanya dengan sah tidaknya shalat seseorang padahal shalat adalah kewajiban terpenting seorang muslim setelah mentauhidkan Alloh SWT1). Namun karena terjadi perbedaan ulama dalam penetapannya sebagai bagian dari surat al-Fatihah, maka seluruh ummat berijma’ bahwa yang mengingkari bismillah bagian dari surat Al-Fatihah tidak dihukumi sebagai kafir. Hal ini berbeda dengan mengingkari ayat lain, sebagaimana diungkapan imam Taqiyuddin Husni dalam kitab Kifayatul Akhyar2). Sebelum kita membahas masalah tersebut lebih detil, selayaknya kita rinci titik sepakat dan khilafnya para ulama menyikapi bismillah dalam Al-Qur’an.

Titik Sepakat

Seluruh ulama berijma’ bahwa bismillah adalah bagian dari surat An-Naml ayat 30 3) yang telah sampai kepada kita semua dengan sanad mutawatir melalui semua qura. Hal ini dinukil oleh Ibnu al-Jazri dalam kitab An-Nasyr 4).

Seluruh ulama juga sepakat bahwa bismillah tidak termasuk bagian awal surat Al-Abra’ah (At-Taubah) sebagaimana dijelaskan oleh imam Ad Dani dalam kitab At-Taisiir  dan Ibnul Jazri dalam An-Nasyr 5).

Titik Khilaf

Selanjutnya para ulama berbeda pendapat dalam hal apakah bismillah adalah ayat tersendiri di awal surat selain surat Al-Abra’ah? Ada lima pendapat dalam masalah ini dengan perincian sebagai berikut :

Pendapat pertama, bahwa bismillah adalah ayat pertama bagi surat Al-Fatihah saja. Ini adalah pendapat yang masyhur dari kalangan ulama Makkah dan Kufah, juga salah satu pendapat Imam Syafi’i.

Pendapat kedua, bismillah adalah ayat pertama dari surat Al-Fatihah dan awal ayat semua surat kecuali surat At-Taubah. Ini adalah pendapat yang paling shahih dalam madzhab Syafi’i, juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Pendapat ketiga, bismillah adalah ayat pertama dari surat Al-Fatihah dan termasuk sebagian ayat pertama dari tiap surat. Ini adalah pendapat ke dua Imam As Syafi’i.

Pendapat keempat, bismillah adalah ayat tersendiri dari tiap surat dan bukan bagian dari surat. Ini adalah pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.

Pendapat kelima, bismillah bukanlah ayat dari surat Al-Fatihah dan semua surat. Tujuan penulisannya sekedar bertabaruk dengan menyebut nama Allah SWT. Ini adalah madzhab Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Jika kelima pendapat ini disederhanakan terkait bahasannya dengan surat Al-Fatihah maka akan keluar dua pendapat saja:

  1. Pendapat yang mengatakan bahwa bismillah adalah ayat dari surat Al-Fatihah (Imam syafi’I dan Imam Ahmad serta para ulama yang sepakat dengan beliau),
  2. Pendapat yang mengatakan bahwa bismillah bukan bagian dari surat Al-Fatihah (Imam Malik dan Imam Abu Hanifah serta yang mengikuti beliau).

Dua pendapat inilah yang akan kami bahas argumentasi beserta sanggahanya selama memungkinkan sebelum memilih pendapat terkuat dari keduanya.

Dalil-Dalil Pendapat Pertama

Para ulama yang berpendapat bahwa bismillah adalah ayat dari surat Al-Fatihah berdalil dengan banyak argumentasi, baik secara naqli ataupun aqli, diantaranya 6) :

  1. Dalil Naqli

Diantara dalil-dalil naqli dari pendapat pertama ini adalah :

  1. Dari Anas bin malik RA ia berkata: suatu hari Rasulullah SAW bersama kami, kemudian beliau terlelap sejenak. Setelah itu beliau mengangkat kepalanya sembari tersenyum. Kami bertanya : gerangan apakah yang membuat engkau tersenyum wahai Rasulullah? Beliau menjawab : baru saja aku menerima satu surat, kemudian beliau membaca : bismillahirahmanira inna a’thoinakal kautsar…dst ( HR. Imam Muslim).

Seandainya bismillah bukan bagian dari surat al kautsar pastilah Rasulullah tidak membacanya.

  1. Ketika Anas bin Malik ditanya bagaimana Rasulullah SAW membaca Qur’an , beliau menjawab : Rasulullah memanjangkan bacaan bismillahirahmanira..dengan memanjangkanya ( HR. Bukhori).

Anas menjelaskan bahwa bacaan Qur’an Rasul dipanjangakan dan beliau membaca bismillah sebagi awal surat,jika bukan bagian dari surat tentunya tidak beliau baca.

  1. Umu salamah mengatakan bahwa Rasulullah SAW membaca bismillah pada awal surat Al-Fatihah dan menghitungnya sebagai ayat pertama (HR. Ibnu Huzaimah dan Baihaqi),
  2. Ibnu Abbas RA ketika mentafsirkan firman Allah ta’ala :

dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung .(al Hijr :87),

beliau berkata : yang dimaksud denga tujuh ayat ini adalah surat Al-Fatihah. Ketika ditanya mana satu ayatnya lagi agar menjadi tujuh? Beliau menjawab ayat itu adalah bismillah (HR. IBnu Huzaimah dan Baihaqi).

Kedua riwayat dari sahabat ini secara tekstual menyebutkan bahwa bismillah adalah ayat pertama dari surat Al-Fatihah.

  1. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah SWT belum mengetahui pemisah antara dua surat sampai turun bismillah ( HR. Abu Daud dan Hakim).

Hadist ini menunjukan bahwa bismillah adalah awal dari tiap surat

  1. Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda : jika kalian membaca Al-Fatihah maka bacalah bismillah karena ia adalah ayat darinya (HR daru Quthni).

Imam Nawawi menukil dari Daruquthni bahwa beiliau mengatakan : sanad hadist ini semuanya tsiqah .

  1. Imam Al-Baihaqi dalam kitab Sunannya juga meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas serta sahabat lain bahwa bismillah dalah ayat pertama dari surat Al-Fatihah.
  2. Dari Nu’aim al mujammir ia berkata,” aku shalat bermakmum pada Abu Hurairah dan ia membaca bismillah (dengan mengeraskannya) sebelum membaca Alhamdulillah, dan ketika sampai akhir Al-Fatihah beliau membaca aamiin. Selesai salam beliau berkata, demi Allah aku adalah orang yang shalatnya paling mirip dengan Rasulullah “( HR. Nasa’i dan Ibnu Huzaimah).

Ketika Abu Hurairah mengatakan bahwa shalat beliau paling mirip dengan shalat Nabi dan beliau membaca bismillah tentunya Nabi juga membaca bismillah, karena mustahil bagi seorang sahabat berdusta atas nama Nabi.

  1. Dalil ‘Aqli

Adapun dalil-dalil retorika dari pendapat pertama ini diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Para sahabat telah berijma’ menulisnya di mushaf dengan tulisan dan warna sesuai tulisan mushaf pada semua surat terkecuali surat At-Taubah. Ini menunjukan bahwa bismillah adalah ayat dari tiap surat itu sendiri. Sebab, mustahil bagi para sahabat menulis sesuatu secara sama persis dengan mushaf dan ia bukan bagian dari mushaf itu sendiri. Dan jika ini terjadi maka akan menimbulkan keraguan bahwa para sahabat telah menulis sesuatu di Al-Qur’an yang bukan darinya, dan keyakinan seperti ini haram hukumnya.
  2. Seandainya bismillah hanyalah sebagai pemisah antara dua surat pastilah para sahabat menulisnya antar Al-Anfal dan At-Taubah, serta mereka tidak akan menuliskanya di awal surat Al-Fatihah kerena ia pembuka Al-Qur’an secara penulisan, dan nyatanya para sahabat menuliskanya pada surat Al-Fatihah, tetapi tidak menulisnya antara suart Al-Anfal dan At-Taubah. Hal ini menunjukan bahwa bismillah adalah bagian dari surat yang ia di tulis di awalnya.
  3. Pemisahan antara dua surat bisa dilakukan dengan memberi keterangan ringkas tentang surat seperti pada surat At-Taubah. Akan tetapi sahabat menulisnya pada tiap surat. Hal ini menunjukan bahwa bismillah adalah ayat dari tiap surat tersebut.

Retorika pendapat pertama ini dapat disanggah bahwa penulisan bismillah pada awal surat bisa jadi sekedar untuk mencari keberkahan dan tidak dimaksudkan sebagai bagian dari surat tersebut.

Namun Imam Nawawi membantah sanggahan ini dan menegaskan bahwa jika tujuanya sekedar tabaruk dangan nama Allah SWT pastilah hanya ditulis di awal Al-Fatihah saja, dan tidak ditulis di surat-surat yang terdapat lafadz tahmid dan tasbih karena sudah cukup untuk bertabaruk dengannya tanpa bismillah. Namun, para sahabat menulisnya pada semua surat kecuali surat At-Taubah. Hal ini menunjukan bahwa perintah menulis tersebut dari Nabi SAW sebagai bagian dari Al-Qur’an 7).

 

Dalil-Dalil Pendapat Kedua

Para ulama yang berpendapat bahwa bismillah bukan ayat dari surat Al-Fatihah berargumetasi dengan dalil naqli dan ‘aqli, yang rinciannya sebagai berikut:

  1. Dalil Naqli

Di antara dalil-dalil naqli mereka adalah:

  1. Hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda , Allah SWT berfirman, “Aku membagi shalat hambaku menajdi dua bagian, satu bagian untukku dan satu bagian lagi untuknya, ketika ia mengatakan alhamdu lillahi rabbil’alamin…dst (HR. Muslim).

Dalam hadist tersebut tidak disebutkan bismilah sebagai awal dari surat Al-Fatihah. Hal ini menunjukan bahwa ia bukan ayat dari surat Al-Fatihah.

Retorika dengan dalil ini dapat disanggah, bahwa bismillah tidak disebutkan karena sudah termasuk pada dua ayat setelahnya. Sebab maksud hadits itu adalah “jika hambaku membaca sampai alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin”, bismillah sudah termasuk di dalamnya. Dalam riwayat Imam Daru Quthni ada tambahan, “jika hambaku membaca bismillahi rahmani rahim” Alloh berfirman : (( Hambaku menyebutku)) meskipun hadist ini dho’if.

  1. Hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik RA, beliau berkata,” aku shalat dibelakang Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman RA dan aku tidak mendengar mereka membaca bismillah (HR. Muslim) dalam satu riwayat lain oleh Imam Muslim dari Anas RA ia berkata,” mereka semua memulai sholatnya dengan alhamdulillahi robbil ‘alamin dan tidak membaca bismillah di awal atau di akhir bacaan.

Hadits ini secara tekstual menyebutkan bahwa Rasul SAW dan para khulafa Rasyidin tidak membaca bismillah di awal surat Al-Fatihah.

Istidlal dengan hadits ini dapat disanggah bahwa tidak mendengar bismillah bukan berarti Rasul dan Khulafa Rasyidin tidak membacanya, melainkan membacanya dengan pelan (sirri), apalagi Abu Hurairah RA ketika mencontohkan shalat Rasul SAW membaca bismillah dengan jahr.

  1. Dalil ‘Aqli
  2. Sampainya ayat Al-Qur’an kepada kita semua adalah melalui jalur mutawatir dan tidak boleh melalui selain mutawatir. Namun, bismillah dalam masalah ini tidak memenuhi sayarat mutawatir, maka masuknya ia dalam hitungan ayat Al-Fatihah menjadi hal yang diragukan.

Dalil ini dapat disanggah bahwa adanya tulisan bismillah pada awal Al-Fatihah sudah memiliki makna mutawatir.

  1. Seandainya bismillah adalah bagian dari surat Al-Fatihah pastilah orang yang mengingkarinya menjadi kafir, dan ternyata seluruh ulama berijma bahwa mereka yang mengingkari bismillah bagian dari Al-Fatihah tidak menjadi kafir.

Dalil ini dapat disanggah dengan retorika terbalik yaitu seandainya bismillah bukan dari Al-Fatihah, pastilah yang mengatakan bagian dari Al-Fatihah juga kafir. Akan tetapi mereka juga tidak mengatakan hal ini, terlebih masalah ini berdalil dengan zhanniyat maka tidak dibenarkan saling mengkafirkan.

  1. Karena penduduk Madinah Al Munawarah menukil dari generasi sebelum mereka hingga sampai pada para sahabat bahwa mereka memulai shalat dengan Al Hamdulillahi Rabil ‘Alamin.

Ijma ahlu Madinah ini dapat disanggah bahwa mereka hanyalah sebagian umat islam dan tidak mewakili semua umat. Apalagi seluruh ahli Makkah sepakat bahwa bismillah adalah ayat pertama surat Al-Fatihah. Ibnu Abdil Bar menyebutkan, “Perbedaan masalah ini sudah terjadi sejak dahulu hingga sekarang”, sehingga menjadikan ijma penduduk Madinah sebagai dalil dalam maslah ini tidaklah pada tempatnya.

Tarjih

Pendapat yang sangat moderat dan menggabungkan ke dua pihak adalah pendapat Ibnu Al Jazri serta para ulama yang sepakat dengan beliau bahwa perselisihan ini kembali pada perbedaan para Qura’ dalam meriwayatkan bacaan Qur’an hingga sampai pada kita semua. Sebab, sebagian Qura’ memang tidak meyakini bismillah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, yaitu : Imam Abu Amr dan Qolun dan para Quro Madinah, sedangkan Ibnu Katsir, ’Ashim, Kisa’i, dan Hamzah meyakini bahwa bismillah adalah awal surat Al-Fatihah.

Hanya saja Imam Ibnu Al Jazri menyanggah anggapan  Qalun tidak meyakininya sebagai bagian dari surat Al-Fatihah. Beliau juga mengatakan  bahwa Imam Ad Dani meriwayatkan dengan sanad shahih sampai Imam Nafi bahwa beliau berkata,” aku bersaksi bahwa bismillah adalah bagian dari surat Al-Fatihah”, beliau juga meriwayatkan dari Imam Al Musayyabi bahwa madzhab Qura’ Madinah adalah meyakini bismillah sebagai bagian dari surat Al-Fatihah 8).

Kami menyimpulan dari pendapat Ibnu Jazri bahwa dari ke tujuh Qura’ termasyhur ada satu yang tidak meyakini bahwa bismillah adalah bagian dari surat Al-Fatihah yaitu imam Abu ‘Amr. Semua ummat islam juga telah berijma bahwa tujuh jalur qira-at tersebut mutawatir sampai pada Rasulullah SAW sehingga kedua pendapat tersebut adalah benar, tidak ada yang salah.

Yang ingin kami tambahkan adalah bisa jadi seseorang shalat menjadi imam atau sendiri dan shalatnya tidak sah karena tidak membaca bismillah jika ia membaca Al-Fatihah dengan qira-at selain riwayat Ibnu ‘Amr. Contohnya, membaca dengan riwayat Ashim yang sangat mashur di Indonesia tanpa bismillah baik sir atau jahr maka shalatnya tidak sah. Sebab, telah mengurangi satu ayatnya dari riwayat hafs. Wallahu a’lam.    

 

**********

Penulis        : Muhammad Nur Khozin Abu Nuha

Mudir LBQ el-Tartiil Bekasi, Indonesia

( Sebagai jawaban atas pertanyaan yang sering ditanyakan dalam kajian keislaman )

 

  1. al-majmu’ syarh muhadzab (3/334)
  2. kifayatul akhyar (1/105)
  3. al-majmu’ (3/334), al-mughni (1/344), usul qiro’ah DR Murod Zahwi hal.19.
  4. an-nasyr fi qiro’at al ‘asyr (1/271)
  5. at-taisir fi qoro’at sab’i hal.17, an-nasyr (1/264).
  6. al majmu syarh muhadzab (3/336)
  7. al majmu (3/336).
  8. an ansyr (1/271).

You may also like

1 comment

Khir August 27, 2018 - 9:51 am

Terima kasih atas ilmu yang bermanfaat ni. sebab ade dikalangan kita yg mmbaca bismillah diawal al fatihah (ketika solat) dan ade yang tidak.
untuk saya, saya mmbaca bismillah di awal al fatihah.

Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.